Tokoh yang paling berperan dalam dunia pers
Adinegoro lahir
pada 1904 di Talawi, Sumatra Barat dengan nama Djamaluddin. Karena ayahnya
adalah seorang Resident di Indrapura maka beliau berhak masuk ke ELS
(1911) kemudian HIS dan atas dorongan keluarga Adinegoro dikirim ke Jawa
(Batavia) untuk masuk ke STOVIA. 1926, Adinegoro pergi melawat ke barat. Selama
empat tahun beliau menimba ilmu, bekerja serabutan dan meninjau berbagai
kawasan di Eropa?Prancis, Belanda, Jerman, Italia dan beberapa daerah Balkan?,
setelah memikirkan dengan matang tindakannya tersebut padahal tinggal dua tahun
gelar dokternya untuk diselesaikan.
Setelah kembali
ke tanah air, 1931 Adinegoro bekerja di harian Panji Pustaka (Jakarta)
kemudian pindah ke Pustaka Deli (Medan). Pada masa pendududkan
Jepang, 1942, Adinegoro dipercaya memimpin harian Sumatra dengan titel Jepang, Sumatra
Shimbun. Dan ketika masa kemerdekaan, Adinegoro dipercaya sebagai wakil
pemerintahan RI urusan penerangan di Sumatra. Di tahun 1947, Adinegoro bersama
Soepomo, H. B. Jassin mendirikan Yayasan Dharma; memajukan Indonesia
dengan penerbitan, dengan Mimbar Indonesia sebagai jagoannya. Di waktu
yang bersamaan, Adinegoro jatuh sakit. Karena berbagai pertimbangan akhirnya
beliau beserta keluarga memutuskan pindah ke Jakarta.
Adinegoro
juga diberi kesempatan meliput KMB, Den Hag, 1949. Dan beliau juga
berkesempatan mendirikan Djambatan, sebagai penghubung dua pihak yang
berseteru?Indonesia dan Belanda?dengan saling pengertian melalui buku. 1951
Adinegoro diminta untuk memimpin Aneta. Di tahun 1956 beliau berhasil
menasionalisasikan Aneta dengan berubah nama menjadi Persbiro Indonesia.
Adinegoro juga berkesempatan melawat ke Moskow bersama rombongan Presiden
Soekarno, meliput sidang PBB soal Irian Barat di Amerika 1957 dan ketika
Persbiro Indonesia digabungkan dengan Antara, Adinegoro diberi posisi sebagai
dewan pengawas dan anggota dewan pemimpin (1963). Selama
perjalanannya di berbaga Negara bagian Eropa, beliau rajin mengirimkan
artikel-artikelnya ke majalah Pandji Poestaka, Pewarta Deli (Medan), dan
Bintang Timoer (Jakarta). Sepulangnya dari Eropa, beliau diangkat
menjadi pemred Pandji Poestaka. Selain itu, setelah berhenti pada Pandji
Poestaka, beliau memimpin harian Pewarta Deli.
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar