Jumat, 12 September 2014

Tugas 1 Mata Kuliah Jurnalistik

Tokoh yang paling berperan dalam dunia pers

Adinegoro lahir pada 1904 di Talawi, Sumatra Barat dengan nama Djamaluddin. Karena ayahnya adalah seorang Resident di Indrapura maka beliau berhak masuk ke ELS (1911) kemudian HIS dan atas dorongan keluarga Adinegoro dikirim ke Jawa (Batavia) untuk masuk ke STOVIA. 1926, Adinegoro pergi melawat ke barat. Selama empat tahun beliau menimba ilmu, bekerja serabutan dan meninjau berbagai kawasan di Eropa?Prancis, Belanda, Jerman, Italia dan beberapa daerah Balkan?, setelah memikirkan dengan matang tindakannya tersebut padahal tinggal dua tahun gelar dokternya untuk diselesaikan.
Setelah kembali ke tanah air, 1931 Adinegoro bekerja di harian Panji Pustaka (Jakarta) kemudian pindah ke Pustaka Deli (Medan). Pada masa pendududkan Jepang, 1942, Adinegoro dipercaya memimpin harian Sumatra dengan titel Jepang, Sumatra Shimbun. Dan ketika masa kemerdekaan, Adinegoro dipercaya sebagai wakil pemerintahan RI urusan penerangan di Sumatra. Di tahun 1947, Adinegoro bersama Soepomo, H. B. Jassin mendirikan Yayasan Dharma; memajukan Indonesia dengan penerbitan, dengan Mimbar Indonesia sebagai jagoannya. Di waktu yang bersamaan, Adinegoro jatuh sakit. Karena berbagai pertimbangan akhirnya beliau beserta keluarga memutuskan pindah ke Jakarta.
Adinegoro juga diberi kesempatan meliput KMB, Den Hag, 1949. Dan beliau juga berkesempatan mendirikan Djambatan, sebagai penghubung dua pihak yang berseteru?Indonesia dan Belanda?dengan saling pengertian melalui buku. 1951 Adinegoro diminta untuk memimpin Aneta. Di tahun 1956 beliau berhasil menasionalisasikan Aneta dengan berubah nama menjadi Persbiro Indonesia. Adinegoro juga berkesempatan melawat ke Moskow bersama rombongan Presiden Soekarno, meliput sidang PBB soal Irian Barat di Amerika 1957 dan ketika Persbiro Indonesia digabungkan dengan Antara, Adinegoro diberi posisi sebagai dewan pengawas dan anggota dewan pemimpin (1963). Selama perjalanannya di berbaga Negara bagian Eropa, beliau rajin mengirimkan artikel-artikelnya ke majalah Pandji Poestaka, Pewarta Deli (Medan), dan Bintang Timoer (Jakarta). Sepulangnya dari Eropa, beliau diangkat menjadi pemred Pandji Poestaka. Selain itu, setelah berhenti pada Pandji Poestaka, beliau memimpin harian Pewarta Deli.

Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar