Senin, 06 Juli 2015

Sukoharjo Bergetar, Sukoharjo Bergoyang!



O.M SERA kembali menggoyang Sukoharjo tepatnya di lapangan Tenogo Mulyo Gatak, Sukoharjo (23/5) malam.
Ribuan penonton memadati lapangan Tenogo Mulyo sejak sore hari. Konser yang telah ditunggu-tunggu oleh sera mania (sebutan penggemar orkes) ini menampilkan artis-artis kebanggaan Jawa Timur seperti Sarah Brilian, Wiwik Sagita, dan Via Vallen. Para penonton sengaja datang jauh-jauh ke gatak selain untuk berjoget bersama Orkes Melayu (O.M SERA) mereka juga ingin bertemu dan melihat Wiwik Sagita dan Via Vallen secara dekat. Biduan yang sekarang sering muncul di televisi nasional ini memang menjadi salah satu ikon orkes melayu tersebut. Sebelum diajak berjoget dengan Wiwik Sagita dan Via Vallen tampil, para penonton diajak pemanasan oleh Niken Maheswara dan Sarah Brilian.
            Wiwik Sagita mengawali penampilannya dengan lagu woyo-woyo yang mampu menaikkan tensi para penonton.  Saat tensi konser mulai meninggi, penonton pun makin panas, sejumlah Seramania yang semula asyik bergoyang terlihat saling pukul karena tak sengaja tersenggol sesama penggemar. Namun kejadian tersebut mampu diredam oleh keamanan yang sudah berjaga sejak konser dimulai. Setelah menghibur para penggemar dengan menyanyikan tiga buah lagu, konser dilanjutkan dengan penampilan Via Vallen.
Via malam itu terlihat sangat cantik dan membuka penampilannya dengan lagu apalah-apalah dari Iis Dahlia yang kemudian disambut dengan teriakan para penonton. Setelah menyanyikan lagu pertama, wanita cantik kelahiran Sidoarjo ini kemudian menyapa satu per satu Vianisty (sebutan penggemar fanatik Via Valent) dari Sukoharjo, Solo, Karanganyar, Colomadu, Klaten, hingga Gunungkidul. Sapaan ramah Via disambut teriakan histeris oleh para penggemarnya. Konser malam itu berakhir pukul 23.00 WIB dan ditutup oleh penampilan Via Vallen dengan lagu Ora Biso turu.

Liburan Nggak Harus Mahal !!! Ini Solusinya!



Apakah anda sudah punya rencana liburan minggu ini? Jika belum, dan anda masih bingung ingin liburan kemana? mungkin Obyek Mata Air Cokro yang berada di Klaten ini menjadi alternatif liburan bersama keluarga.
            Obyek Mata Air Cokro (OMAC) merupakan salah satu obyek wisata yang berada di kabupaten Klaten, tepatnya di kecamatan Tulung. Di tempat ini, anda dapat berenang di sungai yang bersih dan jernih. Selain sungainya yang jernih, tempat ini juga sangat sejuk karena banyak pepohonan besar yang dapat melindungi anda dari sinar Matahari. Di bagian atas juga ada kolam renang dan waterboom yang dapat digunakan untuk bermain bersama anak-anak anda.
            Harga tiket masuknya pun sangat terjangkau, yaitu anda hanya perlu mengeluarkan uang sebesar Rp. 10.000 anda dapat menikmati fasilitas dan hiburan yang ada di obyek mata air cokro ini. Selain bisa berenang, anda dapat menikmati dan menonton Live musik dangdut yang telah disediakan oleh pengelola. Rombongan orkesnya pun setiap minggu berbeda, ada yang dari Klaten, Sukoharjo, maupun Solo. Hal tersebut untuk mengantisipasi rasa bosan pengunjung setia wisata ini. “setiap minggu kita selalu menampilkan orkes melayu yang berbeda agar pengunjung tidak bosan” kata salah satu pengelola tempat wisata tersebut.
            Selain panggung hiburan, obyek mata air cokro juga memiliki fasilitas lain yaitu waterboom. Waterboom biasanya sangat diminati oleh para keluarga yang mempunyai anak kecil. Bapak Eko pun demikian, dia datang dari Sukoharjo beserta keluarganya untuk berwisata di Cokro ini untuk menyenangkan anak-anaknya. “Iya mas saya kesini bersama istri dan dua orang anak saya. Selain harga tiket masuknya murah, kita juga bisa melihat panggung hiburan dan bermain di waterboom ini. Apalagi kedua anak saya, mereka sangat senang bermain disini dan tidak mau diajak pulang.” Kata dia sambil tertawa saat saya wawancarai di arena waterboom tersebut.
            Obyek Mata Air Cokro memang mempunyai daya pikat untuk dikunjungi. Selain air yang jernih karena langsung dari mata air, tempatnya yang sejuk, ada hiburan live musik, dan arena waterboom. Harga tiket masuknya pun sangat murah. Selain berkunjung ke Cokro, anda juga bisa berwisata sambil menyelam di Umbul Ponggok yang letaknya tidak jauh dari Obyek Mata Air Cokro tersebut.

Solo Muslim Fair



Solo Muslim Fair merupakan sebuah acara pameran busana muslim yang diselenggarakan di kota solo. Tepatnya di Goro Assalam pabelan Surakarta. Pameran yang bernuansa islam ini dilaksanakan selama 10 hari (6-15 maret 2015). Selain busana muslim, masih banyak produk-produk yang ditawarkan seperti buku, jilbab, aksesoris, produk-produk herbal, dan masih banyak yang lainnya. Selama pameran berlangsung, ada beberapa lomba untuk anak-anak. antara lain lomba membaca Al-Qur’an, hafalan surat, dakwah, mewarnai, dan fashion show.
            Saat saya berkunjung ke stand baju muslim yang berada di area parkir goro assalam, saya sempat sedikit berbincang dengan salah satu pengunjung pameran yaitu ibu Lina. Wanita yang berasal dari klaten ini mengaku sudah 2 kali mengunjungi acara yang digelar di solo ini. Banyak hal yang menarik perhatiannya antara lain harga yang ditawarkan lebih murah, model baju atau jilbab yang ditawarkan bervariasi, serta banyak diskon juga yang mampu menarik perhatiannya.
Acara yang akan berakhir tanggal 15 ini, diharapkan mampu menarik minat warga solo untuk berbelanja busana muslim dengan kualitas bagus namun masih harga terjangkau.

Rabu, 21 Januari 2015

Tugas Jurnalistik 2



Hubungan Film State of Play dengan Elemen-Elemen Jurnalistik

 Film yang bertemakan politik ini disutradarai oleh Kevin Macdonald. State of Play bercerita tentang penyelidikan beberapa orang jurnalis atas terjadinya pembunuhan seorang wanita bernama Sonia Baker yang ternyata merupakan selingkuhan dari salah satu anggota Kongres.
            State of Play diawali dengan adegan penembakan seorang perampok oleh seorang pria yang memegang sebuah koper. Sang penembak juga menembak seorang pengantar pizza, yang tak sengaja menyaksikan kejadian tersebut.  Penembakan itu membuat pengantar pizza koma dan harus dirawat di rumah sakit. Keesokan paginya, di sebuah jalur kereta api ditemukan seorang wanita tewas dan diduga sebagai sebuah usaha bunuh diri.
            Wanita tersebut adalah Sonia Baker, seorang pegawai dari anggota Kongres Pennsylvania, Stephen Collins. Pada saat konferensi pers mengenai kematian Sonia Baker,  Stephen meneteskan air mata. Hal itu menimbulkan spekulasi di kalangan pers bahwa Stephen telah menjalin sebuah hubungan khusus dengan Sonia.
            Di lain tempat, jurnalis Cal McAffrey yang merupakan mantan teman satu kamar asrama Stephen Collins di masa kuliah sedang berdiskusi tentang permasalahan itu dengan Della Frye, seorang reporter baru yang mengelola harian online. Pada awalnya, Cal menyelidiki pembunuhan seorang perampok yang diceritakan pada awal film. Namun, seiring perkembangan informasi ia menemukan adanya hubungan antara Sonia Baker dan perampok tersebut. Ini menunjukan sifat kreatif dan out of the box yang dimiliki seorang jurnalis.
            Dalam film ini terdapat beberapa elemen jurnalisme, diantaranya adalah kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran, Cal dan Della akhirnya memutuskan untuk menyelidiki kasus ini.  Investigasi ini juga sebenarnya  didorong rasa bersalah Cal karena dulu sempat berselingkuh dengan istri Stephen, Anne Collins. Apalagi, Stephen datang langsung ke apartemennya dan meminta bantuan Cal. Film yang diproduseri oleh Andrew Hauptman ini sangat menonjolkan sifat-sifat yang mencerminkan seorang jurnalis, seperti pandai bernegosiasi, coffered, konteks, kreatif, dan memiliki banyak ‘link’.
            Cal dan Della terus mencari informasi dan melakukan penyelidikan tentang kasus ini karena esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi. State of Play  menggambarkan penelusuran Cal dan Della atas kasus ini yang ternyata justru membuka sebuah kasus besar yang melibatkan berbagai pihak militer Amerika Serikat.

Kamis, 15 Januari 2015

Landscape


Kradenan Sawahan Juwiring Klaten

 Sunset waduk Cengklik Boyolali

View dari atas tanggul waduk Cengklik
Pendopo GOR Gelarsena Kabupaten Klaten (tampak belakang)

Jumat, 12 September 2014

Tugas 1 Mata Kuliah Jurnalistik

Tokoh yang paling berperan dalam dunia pers

Adinegoro lahir pada 1904 di Talawi, Sumatra Barat dengan nama Djamaluddin. Karena ayahnya adalah seorang Resident di Indrapura maka beliau berhak masuk ke ELS (1911) kemudian HIS dan atas dorongan keluarga Adinegoro dikirim ke Jawa (Batavia) untuk masuk ke STOVIA. 1926, Adinegoro pergi melawat ke barat. Selama empat tahun beliau menimba ilmu, bekerja serabutan dan meninjau berbagai kawasan di Eropa?Prancis, Belanda, Jerman, Italia dan beberapa daerah Balkan?, setelah memikirkan dengan matang tindakannya tersebut padahal tinggal dua tahun gelar dokternya untuk diselesaikan.
Setelah kembali ke tanah air, 1931 Adinegoro bekerja di harian Panji Pustaka (Jakarta) kemudian pindah ke Pustaka Deli (Medan). Pada masa pendududkan Jepang, 1942, Adinegoro dipercaya memimpin harian Sumatra dengan titel Jepang, Sumatra Shimbun. Dan ketika masa kemerdekaan, Adinegoro dipercaya sebagai wakil pemerintahan RI urusan penerangan di Sumatra. Di tahun 1947, Adinegoro bersama Soepomo, H. B. Jassin mendirikan Yayasan Dharma; memajukan Indonesia dengan penerbitan, dengan Mimbar Indonesia sebagai jagoannya. Di waktu yang bersamaan, Adinegoro jatuh sakit. Karena berbagai pertimbangan akhirnya beliau beserta keluarga memutuskan pindah ke Jakarta.
Adinegoro juga diberi kesempatan meliput KMB, Den Hag, 1949. Dan beliau juga berkesempatan mendirikan Djambatan, sebagai penghubung dua pihak yang berseteru?Indonesia dan Belanda?dengan saling pengertian melalui buku. 1951 Adinegoro diminta untuk memimpin Aneta. Di tahun 1956 beliau berhasil menasionalisasikan Aneta dengan berubah nama menjadi Persbiro Indonesia. Adinegoro juga berkesempatan melawat ke Moskow bersama rombongan Presiden Soekarno, meliput sidang PBB soal Irian Barat di Amerika 1957 dan ketika Persbiro Indonesia digabungkan dengan Antara, Adinegoro diberi posisi sebagai dewan pengawas dan anggota dewan pemimpin (1963). Selama perjalanannya di berbaga Negara bagian Eropa, beliau rajin mengirimkan artikel-artikelnya ke majalah Pandji Poestaka, Pewarta Deli (Medan), dan Bintang Timoer (Jakarta). Sepulangnya dari Eropa, beliau diangkat menjadi pemred Pandji Poestaka. Selain itu, setelah berhenti pada Pandji Poestaka, beliau memimpin harian Pewarta Deli.

Sumber: